Senin, 05 Juli 2010

TUJUAN PENDIDIKAN

A. Tujuan umum

Salah satu komponen pendidikan adalah tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan terlibat secara langsung di dalam setiap kegiatan pendidikan, dan pendidikan tidak dapat berlangsung tanpa tujuan tertentu. A. Tafsir (1987: 31) menyatakan bahwa tujuan itu menentukan isi pengajaran, langkah pengajaran, dan evaluasi. Penjabaran itu dimulai dari tujuan pendidikan nasional, kemudian tujuan institusional, tujuan kurikuler, tujuan instruksional, sampai kepada tujuan yang khusus dan operasional.

Tujuan pendidikan diartikan sebagai rumusan dari kualitas pengetahuan kemampuan, dan sikap yang harus dimiliki oleh anak didik setelah menyelesaikan suatu program pengajaran di sekolah. Di dalam perencanaan pengajaran perlu dikenal dengan baik tujuan-tujuan tersebut sesuai dengan tingkat kemampuan dan fungsinya masing-masing.

Dalam hubungan ini, MJ. Langaveld mencoba melihat suatu tujuan pendidikan yang bersifat universal yang berlaku bagi semua manusia. Beliau menyatakan bahwa pendidikan adalah usaha untuk mencapai tingkat kedewasaan secara susila. (W. Gulo; 2008)

B. Tujuan Pendidikan Nasional

Dalam UU No. 20 tahun 2003, pasal 3 dinyatakan bahwa; Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

C. Tujuan Institusional

Tujuan institusional adalah tujuan antara untuk mencapai tujuan umum yang dirumuskan dalam bentuk kompetensi lulusan setiap jenjang pendidikan.

Dalam peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang standar nasional pendidikan Bab V pasal 26 dijelaskan standar kompetensi lulusan pada jenajng pendidikan dasar dan menengah bertujuan untuk meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lanjut.

D. Tujuan kurikuler

Pada peraturan pemerintah nomor 19 tahun 2005 tentang standat nasional pendidikan pasal 6 dinyatakan bahwa kurikulum untuk jenis pendidikan umum dan kejuruan dan menengah terdiri atas:

a. Kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia.
b. Kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian.
c. Kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi.
d. Kelompok mata pelajaran estetika.
e. Kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga, dan kesehatan.

E. Tujuan Pembelajaran / Instruksional

Dalam kalsifikasi tujuan pendidikan, tujuan pembelajaran yang disebut juga dengan tujuan instruksional, merupakan yang paling khusus. Tujuan pembelajaran yang merupakan bagian dari tujuan kurikuler, dapat didefinisikan sebagai kemampuan yang harus dimiliki anak didik setelah mereka mempelajari bahasan tertentu dalam bidang studi tertentu dalam satu kali pertemuan.

F. Isi Rumusan Tujuan dalam Pengajaran

Isi tujuan pengajaran harus bersifat komprehensif, artinya mengandung aspek pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Ketiga aspek ini harus terdapat baik dalam tujuan yang bersifat umum maupun tujuan yang bersifat khusus.

1. Domain Kognitif
a. Pengetahuan
Pengetahuan berhubungan dengan mengenal atau mengingat materi yang sudah dipelajari dari yang sederhana sampai pada teori-teori yang sukar. Namun apa yang diketahui hanya sekedar informasi yang dapat diingat saja.

b. Pemahaman
Pemahaman adalah kemampuan memahami arti atau makna dari sesuatu materi pelajaran, seperti menafsirkan, menjelaskan, atau meringkas tentang sesuatu. Pemahaman dapat diartikan sebagai kemampuan untuk menafsirkan sesuatu dengan menerjemahkannya.

c. Penerapan
Penerapan adalah kemampuan menggunakan atau menerapkan materi yang sudaj dipelajari pada situasi yang baru dan menyangkut penggunaan teori, dalil, konsep, prinsip, atau metode.

d. Analisis
Analisis adalah kemampuan menguraikan atau menjabarkan sesuatu kepada komponen atau bagian-bagian sehingga susunannya dapat dipahami, demikian pula hubungan yang satu dengan yang lainnya.

e. Sintesis
Sintesis merupakan kemampuan untuk menghimpun atau mendudukkan kedalam suatu keseluruhan, jadi kemampuan ini semacam kemampuan merumuskan suatu pola atau struktur baru berdasarkan berbagai informasi atau fakta.

f. Evaluasi
Evaluasi merupakan menggunakan pengetahuan untuk membuat penilaian terhadap sesuatu berdasarkan kriteria tertentu.

2. Domain Afektif
a. Penerimaan
Penerimaan merupakan keinginan untuk memperhatikan suatu gejala atau rangsangan tertentu. Penerimaan atau kesediaan seseorang untuk mengahadirkan dirinya pada suatu peristiwa atau rangsangan seperti kegiatan kelas, buku dan musik.

b. Pemberian respons
Pemberian respons merupakan partisipasi aktif dari siswa untuk kegiatan tertentu. Pemberian atau responding menunjuk pada keturutsertaan secara aktif siswa.

c. Penilaian
Hal ini berkenaan dengan penerimaan nilai tertentu pada diri individu atau menolaknya.

d. Pengorganisasian
Berkenaan dengan penerimaan berbagai nilai yang berbeda-beda berdasarkan suatu nilai tertentu yang lebih tinggi.

e. karakterisasi
Mengacu terhadap karakter atau gaya hidup seseorang. Nilai-nilai sangat berkembang secara teratur sehingga tingkah laku menjadi lebih konsisten dan lebih mudah diperkirakan.

3. Domain psikomotor
a. Persepsi atau “perception”
Persepsi menunjukkan pada pemakaian alat-alat perasa untuk membimbing efektivitas gerak.

b. Kesiapan atau “set”
Kesiapan menunjukkan pada kesediaan untuk mengambil jenis aksi atau tindakan yang mencakup kesediaan materil, kesiapan fisik, dan kemauan memberi reaksi.

c. Tanggapan terbimbing atau “guided respons”
Tanggapan terbimbing merupakan tahap awal dari belajar keterampilan yang lebih kompleks.

d. Mekanisme atau “mechanism”
Mekanisme berkenaan dengan gerak-gerak penampilan yang melukiskan proses dimana gerak yang telah dipelajari kemudian diterima atau diadopsi menjadi kebiasaan.

e. Respon nyata yang kompleks atau “compex over respons”
Respon nyata yang kompleks menunjukkan pada penampilan gerakan-gerakan secara mahir dan cermat dalam bentuk gerakan-gerakan yang rumit.

f. Penyesuaian atau “adaptation”
Penyesuaian berkenaan dengan keterampilan yang telah dikembangkan secara lebih baik sehingga seseorang tampak sudah dapat mengolah gerakan dan menyesuaikan dengan tuntunan.

g. Penciptaan atau “origination”
Penciptaan atau origination berkenaan dengan penciptaan pola gerakan baru yang sesuai dengan situasi dan masalah tertentu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar